Senin, 13 Mei 2013

Our Happy Time (Cinta Tak Pernah salah memilih waktu)





 Judul: Our Happy Time
Penulis: Gong Ji Young
Penerjemah: Pradita Nurmaya
Penerbit: Bentang
Tahun terbit: 2012
Jumlah halaman:  xvi + 376 halaman
ISBN:  978-602-9397-25-3
Rating : 4/5



Bagi orang-orang yang tidak tahu, hidup Yu Jeong adalah sempurna. Ia cantik, terkenal, seorang professor lulusan Universitas di  perancis, dan sejak kecil hidup mapan. Namun sayangnya itu hanya terlihat dari luar Yu Jeong saja. Walau ia anak bungsu dan anak perempuan satu-satunya, tapi hubungan Yu Jeong dengan ibunya sangatlah buruk.


“Ada berbagai macam kekerasan. Ada kekerasan fisik, contohnya tadi itu, pukulan. Lalu, kekerasan seksual, kekerasan mental, dan ...  pengabaian. Misalnya ketika perut lapar dia tidak diberi nasi, ketika popoknya basah tidak diganti, saat kedinginan tidak dipeluk. Kalau kekerasan mental, misalnya diperlakukan dengan dingin, tidak dengan sepenuh hati dan cinta. Semua itu termasuk dalam hal kekerasan.”

Seoarang anak  biasanya mendapat cinta dan kasih sayang dari ibunya. Namun tidak bagi Yu Jeong ia terabaikan sebagai seorang anak perempuan. Terlebih lagi ibunya pernah membuat hatinya terluka melebihi daripada tidak disayangi. Yu Jeong benar-benar bosan dan muak dengan hidupnya yang tak berarti. Percobaan bunuh diri ia lakukan beberapa kali, namun malaikat maut enggan merenggutnya. Hingga suatu hari ia dihadapi pilihan untuk melakukan perawatan psiokologis selama satu bulan di rumah sakit atau membantu Bibi Monika memberikan pelayanan kepada para terpidana mati di Rumah Tahanan Seoul. Akhirnya Yu Jeong memilih membantu Bibi Monika daripada harus dirawat selama satu bulan. Hingga takdir mempertemukanya dengan Yun Su.

“Yang patut disalahkan dalam kehidupan para penjahat yang terkutuk itu sebenarnya orang dewasa yang mendidiknya. Sejak kecil mereka telah dididik dengan kekerasan. Hari-harinya diisi dengan pukulan, pukulan, dan pukulan.”


Kebahagian sepertinya tidak pernah menghampiri Yun Su. Ketika masih kecil, Yun Su ditinggal pergi oleh Ibunya. Ia hanya tinggal dengan Ayahnya yang pemabuk dan suka memukuli Yun Su dan adiknya setiap hari, ia juga tinggal bersama adik laki-lakinya Eun Su. Eun Su lah yang membuat ia bertahan,  demi melindunginya    dan untuk bertahan hidup. Hingga suatu hari Ayahnya bunuh diri, seseorang membawa Yun Su dan Eun Su kembali pada Ibu mereka, namun sayang Ibunya pun membuang mereka.
Yun Su dan Eun Su mengahadapi kerasnya hidup sebatang kara, dipukuli anak panti asuhan lainnya demi melindungi adiknya, mengemis bertelanjang kaki saat musim dingin, dan masuk penjara karena ketahuan mencuri.

 Hingga setelah Yun Su dewasa, ia dituduh membunuh tiga perempuan, memperkosa dan merampok. Kejahatan yang ia lakukan mampu membawanya ke tiang gantungan, dieksekusi mati.
Selama sebulan Yu Jeong ikut Bibi Monika datang ke Rumah Tahanan Seoul. Bibi Monika adalah adik dari Ayah Yu Jeong. Bibi Monika seorang penganut Katolik yang taat, hingga membuatnya menjadi Suster dan melayani serta memberi pencerahan kepada para terpidana mati.

Saat Bibi Monika tidak bisa datang ke Rumah Tahanan. Terpaksa Yu Jeong harus datang sendirian. Awalnya Yu Jeong dan Yun Su hanya saling diam. Hingga Yu Jeong memutuskan untuk bercerita tentang kehidupanya yang sebenarnya. Bagaimana Yu Jeong bisa membenci Ibunya, bagaimana ia ingin bunuh diri dan kebencian pada dirinya sendiri. Yu jeong yang sebelumnya belum pernah bercerita apapun tentang masalah hidupnya pada orang lain memutuskan untuk bercerita kepada Yun Su dikarenakan ia merasa nyaman bercerita dengam Yun Su yang sama-sama menderita.

“Aku tahu, ceritaku sedikit aneh ... tapi, sejak kali pertama bertemu, kurasa kita memiliki kesamaan. Tolong jangan tanya kenapa karena aku pun tak tahu jawabanya .... jika dilihat sekilas, mungkin karena kita  sama-sama membenci ibu kita. Sudah lama kau memikirkannya ....”


Yu Jeong selalu menunggu hari Kamis, untuk mengunjungi Yun Su. Setiap bercerita dengan Yu Jeong ia begitu tanpa beban dan mengalir. Namun disaat mereka saling menemukan kebahagian, musim dingin semakin dekat dimana setiap tahanan merasa was-was dengan hukuman eksekusi mereka. Mampukah mereka merubah takdir disaat kebahagian datang kepada mereka?

-------

Pertama-tama saya mau mengucapkan terimakasih kepada pengarang yang sudah menulis novel ini, yang berhasil membuat saya menangis di bagian-bagian akhir novel. Penulis dalam membuat novel ini melakukan riset ke Rumah Tahanan di Korea. Go Ji Young dalam meriset tidak hanya mengamati kegiatan para tahanan di penjara. Ia ikut bersosialisasi dengan para tahanan dalam setiap kegiatan, mungkin inilah yang membuat novel ini begitu dalam dan seakan-akan benar-benar terjadi di dunia nyata, hingga pembaca merasa seolah-olah ikut merasakan kepedihan Tokoh utama di novel ini.

Dari membaca novel ini saya sedikit tahu mengenai sistem hukuman mati di Korea, tapi mengingat novel ini terbit tahun 1996an saya ragu apakah masih dipergunakan atau tidak. Hukuman mati di Korea menggunakan cara di gantung. Terpidana mati kepalanya ditutup sebuah karung kemudian di gantung. Sedangkan waktu pelaksanaanya pada saat musim dingin. Di musim inilah kebanyakan para terpidana mati mulai was-was, apakah mereka akan digantung tahun ini atau musim dingin tahun depan. Sebab terpidana tidak diberitahu kapan mereka akan digantung.

Ohiya, yang menarik dari novel ini, cerita dari masa kecil Yun So hingga dewasa diceritakan terpisah dan terselip di setiap bagian di novel yang warna kertasnya pun berbeda yaitu berwarna abu-abu, catatan biru ini di tulis sendiri oleh Yun So. Cerita Yun So ini diceritakan sedikit demi sedikit dan seolah-olah mendukung cerita utama. Sedih dan merasa kasihan saya membaca cerita biru Yun So. Hidupnya bener-bener gak bahagia dari kecil :”(

Yang sedikit menggangu saat membaca novel ini adalah adanya halaman yang dobel, dan itu tidak hanya satu. Untungnya saya cuman meminjam di perpustakaan jadi tidak merasa rugi, hehe. Tapi ya itu tetep bete, karena halaman yang dobel gak cuman satu tapi beberapa lembar dan halaman dobel tersebut halamanya tidak urut. Namun selebihnya tidak ada yang mengecewakan dari buku ini, bagi yang ingin membaca siap-siap tissue saat membaca halaman-halaman bagian belakang :D. Selamat membaca!

Btw, novel ini sudah diangkat ke film pada tahun 2006 dan saya sudah nonton! Frekuensi menangis saya lebih banyak daripada baca bukunya. Mungkin dikarenakan banyak penjelasan yang dijelaskan di buku kemudian langsung menonton filmnya setelah selesai membaca novelnya, jadi tambah masuk deh feel kasihan saya sama Yun Su dan Yu Jeong.





0 komentar:

Posting Komentar

 

KHAIRUNISA'S BLOG Template by Ipietoon Cute Blog Design